Cool Blue Outer Glow Pointer KULIAH TAK SEINDAH DITIPI-TIPI: Pendidikan-Agama

POLITEKNIK HARAPAN BERSAMA TEGAL

POLITEKNIK HARAPAN BERSAMA TEGAL

POLITEKNIK HARAPAN BERSAMA TEGAL

POLITEKNIK HARAPAN BERSAMA TEGAL

POLITEKNIK HARAPAN BERSAMA TEGAL

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan-Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan-Agama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Oktober 2016

NAMA-NAMA LAIN DARI AL-QUR'AN DAN ARTINYA

Al-Quran Merupakan Firman atau kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW , melalui Perantara malaikat Jibril , yang ditulis dengan mushaf-mushaf disampaikan dengan jalanMutawattir, membacanya bernilai Ibadah ,Alquran terjaga kesucianya sampai akhirul yaman seta sebagai pedoman dan dasar sumber hukum manuasia.

30 Nama-Nama Lain Al-Qur'an

Berikut ini merupakan nama-nama lai  Alquran beserta artinya :

1. Al-Furqon = Pembeda antara yang hak dan yang bathil
2. Adz- Dzkiri = Pemberi Peringatan
3. Al- Mauidhoh = Pelajaran / Nasehat
4. As- Syifa = Sebagai Obat
5. Al- Hukm = Peraturan /hukum
6. Al-Himah = Kebijaksanna
7. Al- Huda = Petunjuk
8. Al- Bashair = Pedoman
9. Al- Balagh = Penyampaian Kabar
10. Al -Qaul = Firman ( perkataan )
11. At- Tanzil = yang diturunkan
12. Ar- Rahman = Karunia
13. Ar- Ruh = Ruh
14. Al -Bayan =penerang
15. Al- Kalam = Ucapan /Firman
16. Al- Busyro = kabar gembira
17. An-Nur = Cahaya
18. An-Naq = Kebenaran
19. Al - Basyah = Keterangan
20 Al-mauizoh = pelajaran /nasihat
21. Al- Karim = Bacaan yang mulia
22. Al- Khoir = Kebaikan
23. Al- Habuyullah = Tali Allah
24. Al-Burhan = Alsan
25. Al Mubarok = Yang di berkati
26. An -Nazir = Pemberi Peringatan
27. Al -Majid = Mulia
28. Al-Muhaimin = Penjaga
29. Al- Hakim = Pemutus Perkara
30. Al -Kitab = sinonim dari ( kitab )

Demikian lah 30 Nama-Nama Lain Al-Qur'an dan artinya , apabila nama-nama tadi ada yang salah mohon kritik dan saranya . semoga nama lain alqouran tadi bermanfaat bagi anda.

Sabtu, 29 Oktober 2016

PENGERTIAN AS SUNNAH

DEFINISI AS SUNNAH
As-Sunnah, menurut bahasa Arab, adalah ath-thariqah, yang berarti metode, kebiasaan, perjalanan hidup, atau perilaku, baik terpuji maupun tercela. Kata tersebut berasal dari kata as-sunan yang bersinonim dengan ath-thariq (berarti "jalan"). Dalam sebuah hadits disebutkan, "Barangsiapa melakukan sunnah yang baik dalam Islam, maka selain memperoleh pahala bagi dirinya, juga mendapat tambahan pahala dari orang yang mengamalkan sesudahnya, dengan tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka. Dan barang siapa melakukan sunnah yang jelek dalam Islam, maka selain memperoleh dosa bagi dirinya, juga mendapat tambahan dosa dari orang yang melakukan sesudahnya dengan tanpa mengurangi sedkitpun dosa mereka." (HR Muslim).

Al-Qadli lyadl berkata bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda, "Sungguh kamu akan mengikuti sunnah-sunnah orang sebelum kamu." Tulisan (Sin, Nun, Nun) dalam kalimat hadits tersebut (Arab) jika dibaca sananun berarti "jalan" atau "metode." Adapun jika dibaca sununun atau sanunun keduanya merupakan bentuk jamak dari sunnah maka artinya "perjalanan hidup."

Menurut lbnul Atsir, "Kata sunnah dengan segala variasinya disebutkan berulang-ulang dalam hadits, yang arti asalnya adalah "perjalanan hidup" dan "perilaku'." (an-Nihayah 2: 409).

Adapun pengertian sunnah dalam istilah syara', menurut para Ahli Hadits, adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam, yang berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, karakter, akhlak, ataupun perilaku, baik sebelum maupun sesudah diangkat menjadi nabi. Dalam hal ini pengertian sunnah, menurut sebagian mereka, sama dengan hadits.

Menurut Ahli Ushul, "Sunnah ialah sesuatu yang dinukil dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam secara khusus. la tidak ada nashnya dalam Alquran, tetapi dinyatakan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan sekaligus merupakan penjelasan awal dari isi Alquran." (asy-Syatibi, al-Muwafaqat 4: 47). Adapun menurut Fuqaha (para ahli fikih, red), "Sunnah itu berarti ketetapan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam yang bukan fardhu dan bukan wajib." (asy-Syaukani, lrsyadul Fuhul, him. 31)

Setelah timbulnya perpecahan dan menyebarnya berbagai bid'ah serta aliran pengikut nafsu, maka sunnah digunakan sebagai lambang pembeda antara Ahli Sunnah dan ahli bid'ah. Jika dikatakan si Fulan Ahli Sunnah atau mengikuti sunnah, maka ia adalah kebalikan dari ahli bid'ah. Disebutkan si Fulan itu "mengikuti sunnah" apabila ia beramal sesuai dengan yang diamalkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam (aI-Muwafaqat 4:4)

Pengertian sunnah tersebut didasarkan atas dalil syar'i, baik yang terdapat dalam Alquran maupun berasal dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam, atau merupakan ijtihad para sahabat Radiyallahu ‘anhu seperti mengumpulkan mushhaf dan menyuruh orang-orang membaca Alquran dengan satu bahasa. serta membukukannya. (as-Sunnah, hlm. 48)

Adapun menurut ta'rif kebanyakan Ulama Hadits muta'akhirin, kata sunnah adalah ibarat (ungkapan) yang dapat menyelamatkan dari keragu-raguan tentang aqidah, khususnya dalam perkara iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, takdir, dan masalah keutamaan para sahabat. Istilah sunnah menurut Ulama Hadits muta'akhirin tersebut lebih ditekankan pada aspek aqidah, sebab aspek ini dianggap begitu penting, termasuk bahaya penyelewengannya. Namun jika diperhatikan dengan seksama, lafazh ini lebih mengacu kepada pengertian jalan hidup Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya ra, baik ilmu, amal, akhlak, ataupun segi kehidupan lainnya.

Istilah sunnah menurut ulama Hadis mutaakhirin tersebut lebih ditekankan pada aspek akidah, sebab aspek ini dianggap begitu penting, termasuk bahaya penyelewengannya. Namun, jika diperhatikan dengan seksama, lafaz ini lebih mengacu kepada pengertian jalan hidup Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya ra, baik ilmu, amal, akhlak, ataupun segi kehidupan lainnya.

Untuk membahas ilmu ini, para ulama hadis menyusun beberapa tulisan yang dinamakan Kitab-kitab Sunnah. Mereka mengkhususkan ilmu ini dengan nama Sunnah, karena bahayanya besar (bila terjadi penyimpangan), sedangkan orang yang menentangnya berada di jurang kebinasaan. (lbnu Rajab)

Menurut lbnu Rajab, Sufyan ats-Tsauri mengatakan, "Perlakukanlah Ahli Sunnah dengan baik, karena mereka adalah orang-orang asing." Yang dimaksud sunnah oleh imam-imam itu ialah perjalanan hidup Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya, yang bersih dari syubhat dan syahwat. Karena itu, al-Fudhail bin lyadh mengatakan, "Ahli Sunnah ialah orang yang terkenal hanya mau memakan makanan yang halal. Dan memakan makanan yang halal merupakan perilaku paling penting dalam Sunnah yang dilakukan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya Radiyallahu ‘anhu"

PENGERTIAN AL-QUR'AN

 

Al-Qur'an

Al-Qur'an (ejaan KBBI: Alquran, bahasa Arab: القرآن al-Qurʾān) adalah kitab suci berbahasa Arab yang Allah wahyukan kepada nabi Muhammad S.A.W melalui perantaraan Malaikat Jibril.[1][2] Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan kepada seluruh umat manusia.[3]

Etimologi

Sebuah sampul dari mushaf Al-Qur'an.
Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Qur'an berasal dari bahasa Arab yang berarti "bacaan" atau "sesuatu yang dibaca berulang-ulang". Kata Al-Qur'an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang artinya membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah satu surah Al-Qur'an sendiri yakni pada Surah Al-Qiyamah ayat 17 dan 18 yang artinya:
"Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur'an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti bacaannya". (Al-Qiyāmah 75:17-18)

Terminologi

Allah telah berfirman tentang berbagai definisi Al-Qur'an,[4] serta terdapat penegasan bahwa tiada yang mengingkari Al-Qur'an selain golongan yang celaka.[5]
Mayoritas ahli tafsir sepakat bahwa wahyu pertama yang diterima oleh nabi Muhammad adalah surah Al-'Alaq ayat 1-5.[6] Walaupun hal demikian tidak tertulis secara langsung di Al-Qur'an.[7]
Para ahli tafsir memiliki definisi tersendiri tentang Al-Qur'an, semisal Dr. Subhi Al Salih yang mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut: "Kalam Allah yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah".
Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut: "Al-Qur'an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W penutup para nabi dan rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surah Al-Fatihah dan ditutup dengan surah An-Nas"
Dengan definisi tersebut di atas, firman Allah yang diturunkan kepada nabi selain nabi Muhammad, tidak dinamakan Al-Qur'an.

ISLAM SEBAGAI FITRAH MANUSIA

         Pada dasarnya manusia diciptakan dan dilahirkan di dunia secara naluri mempercayai dan meyakini adanya Tuhan. Naluri Manusia itu pada dasarnya selalu cinta kepada kesucian dan cenderung kepada kebenaran. Keberadaan naluri manusia adalah suci dan benar dalam arti sejak zaman azali.Islam pada awal mulanya diturunkan untuk meluruskan kepercayaan manusia supaya berkepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan jalan mentauhidkan kepercayaan terhadap Allah SWT.


 
Disini letak persamaan dan persesuaian antara ajaran Islam dengan Fitrah manusia, dimulai dari lahirnya yaitu ingin meyakinkan kepercayaan dirinya kepada Tuhan Pencipta Alam Semesta. Islam diturunkan berfungsi untuk mengatur manusia supaya menjadi manusia yang bertanggung jawab dan mau melakukan kewajibannya sebagai makhluk Tuhan dan sekaligus sebagai makhluk sosial.
Islam memberikan pandangan, pemikiran, pengarahan dan pemantapan untuk kebaikan hidup manusia yang layak dan sesuai dengan fitrahnya. Jika seseorang memihak kepada kebatilan, maka perbuatan tersebut bertentangan dengan hati nuraninya secara fitrah.
Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, berarti bahwa manusia sejak lahir secara naluri fitri, telah mempercayai Islam itu secara sadar, ikhlas dan betul-betul memiliki perasaan yang sangat dalam dan tidak bertentangan dengan hati nurani manusia itu. Wilhelm Schmidt, telah membuktikan kebenaran tersebut, dimana pada dasarnya ide pertama manusia itu revelation (Wahyu). Wilhelm Schmidt telah menyeli kehidupan orang-orang primitif, sebab dia masih mempertanyakan, apakah sebetulnya kepercayaan manusia itu mula-mula melalui evolusi atau tidak; maka dia dengan tegas mengambil kesimpulan setelah mengadakan penyelidikan secara detail kepada masyarakat (orang-orang) primitif, bahwa mereka percaya akan monotheisme (Tuhan Yang Maha Esa).
Fitrah manusia yang mendekati kebenarannya adalah : 
1.       Ingin mengetahui adanya kekuatan di luar dirinya, di luar alam semesta, yaitu Allah Maha Pencipta.
2.      Selalu cenderung dan condong serta patuh kepada hal-hal yang baik dan benar sesuai dengan hati nuraninya sendiri, yang diilhami oleh pemikiran rasional dan baik.
3.      Ingin hidup bermasyarakat (Sociality) tidak bersifat individual, sebab hakikatnya manusia adalah makhluk sosial.

METODOLOGI ISLAM


Menurut bahasa (etimologi), metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu meta (sepanjang), hodos (jalan). Jadi, metode adalah suatu ilmu tentang cara atau langkah-langkah yang di tempuh dalam suatu disiplin tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Metode berarti ilmu cara menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Metode juga disebut pengajaran atau penelitian.

Menurut istilahmetodologi” berasal dari bahasa yunani yakni metodhos dan logos, methodos berarti cara, kiat dan seluk beluk yang berkaitan dengan upaya menyelsaikan sesuatu, sementara logos berarti ilmu pengetahuan, cakrawala dan wawasan. Dengan demikian metodologi adalah metode atau cara-cara yang berlaku dalam kajian atau penelitian.
Metodologi adalah masalah yang sangat penting dalam sejarah pertumbuhan ilmu, metode kognitif yang betul untuk mencari kebenaran adalah lebih penting dari filsafat, sains, atau hanya mempunyai bakat.
Cara dan prosedur untuk memperoleh pengetahuan dapat ditentukan berdasarkan disiplin ilmu yang dikajinya, oleh karena itu dalam menentukan disiplin ilmu kita harus menentukan metode yang relevan dengan disiplin  itu, masalah yang dihadapi dalam proses verivikasi ini adalah bagaimana prosedur kajian dan cara dalam pengumpulsn dan analisis data agar kesimpulan yang ditarik memenuhi persyaratan berfikir induktif. Penetapan prosedur kajian dan cara ini disebut metodologi kajian atau metodologi penelitian
Selain itu metodelogi adalah pengetahuan tentang metode-metode, jadi metode penelitian adalah  pengetahuan tentang berbagai metode yang digunakan dalam penelitian. Louay safi mendefinisaikan metodologi sebagai bidang peenelitian ilmiah yang berhubungan dengan pembahasan tentang metode-metode yang digunakan dalam mengkaji fenomena alam dan manusia atau dengan kata lain metodologi adalah bidang penelitian ilmiah yang membenarkan, mendeskripsikan dan menjelaskan aturan-aturan, prosedur-prosedur sebagai metode ilmiah.
Ketika metode digabungkan dengan kata logos maknanya berubah. Logos berarti “studi tentang” atau “teori tentang”. Oleh karena itu, metodologi tidak lagi sekedar kumpulan cara yang sudah diterima(well received) tetapi berupa berupa kajian tentang metode. Dalam metodologi dibicarakan kajian tentang cara kerja ilmu pengetahuan. Pendek kata, bila dalam metode tidak ada perbedaan, refleksi dan kajian atas cara kerja ilmu pengetahuan, sebaliknya dalam metodologi terbuka luas untuk mengkaji, mendebat, dan merefleksi cara kerja suatu ilmu. Maka dari itu, metodologi menjadi menjadi bagian dari sistematika filsafat, sedangkan metode tidak.
Metodologi adalah ilmu cara- cara dan langkah- langkah yang tepat ( untuk menganalisa sesuatu) penjelasan serta menerapkan cara
Istilah metodologi studi islam digunakan ketika seorang ingin membahas kajian- kajian seputar ragam metode yang biasa digunakan dalam studi islam. Sebut saja misalnya kajian atas metode normative, historis, filosofis, komparatif dan lain sebagainya. Metodologi studi islam mengenal metode- metode itu sebatas teoritis. Seseorang yang mempelajarinya juga belum menggunakannya dalam praktik. Ia masih dalam tahap mempelajari secara teoritis bukan praktis.
 
 Ruang lingkup studi Islam
Pembahasan kajian keislaman mengikuti wawasan dan keahlian para pengkajinya, sehingga terkesan ada nuansa kajian mengikuti selera pengkajinya, secara material, ruang lingkup studi islam dalam tradisi sarjana barat, meliputi pembahasan mengenai ajaran, doktrin, teks sejarah dan instusi-instusi keislaman pada awalnya ketertarikan sarjana barat terhadap pemikiran islam lebih karena kebutuhan akan penguasaan daerah koloni. Mengingat daerah koloni pada umumnya adalah Negara Negara yang banyak didomisili warga Negara yang beragama islam, sehingga mau tidak mau mereka harus faham budaya lokal. Kasus ini dapat dilihat pada perang aceh sarjana belanda telah mempelajari islam terlebih dahulu sebelum diterjunkan dilokasi deengan asumsi ia telah memahami budaya dan peradapan massyarakat aceh yang mayoritas beragama islam.
Islam dipahami dari sisi ajaran, doktrin dan pemahaman masyarakat debngan asumsi dapat diketahui tradisi dan kekuatan masyarakat setempat. Setaelah itu pemahaman yang telah menjadi input bagi kaum orentalis diambil sebagai dasar kebijakan oleh penguasa colonial yang tentunya lebih menguntungkan mereka ketimbang rakyat banyak diwilayah jajahanya. Hasil studi ini sesungguhnya lebih menguntungkan kaum penjajah tatas dasar masukan ini para penjajah colonial dapat mengambil kebijakan didaerah koloni dengan mempertimbangkan budaya lokal. Atas masukkan ini, para penjajah mampu membuat  kekuatan social, masyarakat terjajah sesuai dengan kepentingan dan keutunganya. Setelah mengalami keterpurukan, dunia islam mulai bangkit memalui para pembaru yang telah dicerahkan. Dari kelompok ini munculah gagasan agar umat islam mengejar ketertinggalanya dari umat lain

PENGERTIAN ISLAM


Pengertian Islam menurut bahasa dan istilah
Islam memiliki arti bahasa, asal kata islam dari aslama yang berakar dari kata salama, ini termasuk dalam bentuk mashdar (infinitif) dari kata aslama.
Jikalau dikaji dari segi bahasa yang dikaitkan dengan asal kata Islam mempunyai sejumlah pengertian, diantaranya sebagai berikut:
Islam dari kata ‘Salm‘ yang memiliki arti damai

kaltim.tribunnews.com Alloh telah berfirman dalam Al Qur’an yang berbunyi:
“Dan apabila mereka mendekat kepada perdamaian, maka dekatlah kepadanya dan bertawakallah kepada Alloh. sungguh, ialah yang maha mendengar lagi maha tahu.” (QS. 8 : 61)
Arti ‘salm’ diatas mempunyai arti damai atau perdamaian dan termasuk salah satu arti/makna dan ciri khas dari Islam, yakni Islam termasuk agama yang selalu membawa umatnya kedalam perdamaian. Alloh telah berfirman dalam Al Qur’an yang berbunyi:
“Dan apabila terdapat dua golongan dari kaum mu’min yang berperang, maka damaikanlah diantara keduanya. apabila diantara kedua golongan tersebut melakukan aniaya terhadap golangan yang lainnya, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya tersebut, hingga golongan tersebut mau kembali kepada perintah Alloh, apabila telah kembali kepada perintah Alloh, maka damaikanlah keduanya dengan adil dan berlakulah adil. Sungguh Alloh menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. 49 : 9)
Dalam Islam diperbolehkan kaumnya untuk berperang apabila mereka diperangi terlebih dulu oleh musuh-musuhnya. Hal ini sebagai bukti yang nyata bahwa di dalam Islam sangat menjunjung tinggi perdamaian. Alloh telah berfirman dalam Al Qur’an yang berbunyi sebagai berikut:
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sungguh mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Alloh benar-benar maha kuasa untuk menolong mereka.” (QS. 22 : 39)
Islam dari kata ‘Aslama’ yang berarti menyerah

www.sayangi.com Dalam hal ini menandakan bahwa umat Islam termasuk seseorang yang ikhlas menyerahkan dan menggantungkan jiwa serta raganya hanya kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. maksud dari penyerahan jiwa dan raga ini berarti melaksanakan terhadap apa yang diperintahkan Alloh dan menjauhi segala larangan-Nya.
Alloh telah berfirman dalam Al Qur’an yang berbunyi:
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Alloh, sedangkan diapun melakukan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Alloh mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. 4 : 125)
Alloh telah menyeru kepada umat muslim untuk menyerahkan seluruh jiwa dan raga  kepada-Nya. Alloh telah berfirman dalam sebuah ayat yang berbunyi:
“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku,ibadahku , hidupku dan matiku hanyalah untuk alloh, tuhan semesta alam.”(QS. 6 : 162)
Demikian karena sesungguhnya apabila direnungkan, bahwa semua makhluk Alloh baik yang di bumi maupun yang di langit, mereka semua memasrahkan diri kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dengan selalu mengikuti Sunnatullah-Nya. Alloh telah berfirman yang berbunyi:
“Maka apakah akan mencari agama lai selain agama Alloh, padahal hanya kepada-Nya lah tempat berserah yang ada di langit dan di bumi, baik dalam keadaan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allohlah mereka kembali.” (QS 3:83)
Maka dari itu hendaklah seorang muslim menyerahkan diri kepada aturan agama Islam dan juga kehendak Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, insya’alloh dengan demikian hati akan menjadi tenteram, tenang dan damai.
Islam dari kata ‘Istaslama‘- Mustaslimun (Penyerahan total kepada Alloh)

sayyidahqurani.wordpress.com Alloh telah berfirman di dalam Al Qur’an yang berbunyi:
“Bahkan, pada hari itu mereka menyerahkan diri.” (QS. 37:26)
Sebetulnya makna ini sebagai penguat yang diatas yakni sebagai umat muslim dianjurkan untuk benar-benar menyerahkan seluruh raga dan jiwa serta semua harta yang kita miliki hanyalah kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.
Bentuk-bentuk penyerahan diri kepada Alloh meliputi pemikiran, gerak gerik, pekerjaan, tingkah laku, kebahagiaan, kesenangan, kesedihan, kesuksesan dan lain sebagainya. Semuanya itu dikerjakan hanya karena Alloh serta menggunakan manhaj Alloh.
Alloh telah berfirman di dalam Al Qur’an yang berbuyi:
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu dalam agama Islam secara keseluruhan, dan jangnlah kamu mengikuti langkah-langkah syaiton. Sunguhh syaitan adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS 2:208)
Islam dari kata ‘Saliim‘ (Bersih atau suci)

yusufmuhamad12.blogspot.com Dalam hal ini telah dijelaskan dalam Al Qur’an, Alloh berfirman yang berbunyi:
“Kecuali orang-orang yang menghadap Alloh dengan hati yang bersih” (QS. 26 : 89)
Di dalam ayat lain Alloh juga berfirman yang artinya:
“(Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci” (QS. 37: 84)
Ini berarti bahwa agama Islam adalah agama yang bersih dan suci dan mampu menjadikan bersih dan suci terhadap jiwa bagi pemeluknya, selain itu juga akan mengantarkan kepada kebahagiaan yang hakiki, baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
Pada hakikatnya Alloh mensyariatkkan agama Islam untuk membersihkan dan mensucikan jiwa manusia.
Alloh telah berfirman di dalam Al Qur’an yang berbunyi:
“Sesunggguhnya Alloh tidak menghendaki dari adanya syariat Islam, karena itu hendak menyulitkan kamu, tapi sunguh Ia berkeinginan untuk membersihkkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu agar kamu bersyukur.” (QS. 5 : 6)
Islam dari kata ‘Salam‘ yang memiliki arti selamat dan sejahtera

www.rajatourbandung.com Alloh telah berfirman di dalam Al Qur’an yang berbunyi:
“Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Ia sangatlah baik kepadaku.”
Hal ini memiliki makna bahwa agama Islam selalu membawa umat manusia kepada keselamatan dan kesejahteraan. Sedangkan pengertian Islam dalam istilahnya adalah kepatuhan seorang hamba kepada wahyu Ilahi yang diturunkan kepada para Rosul dan Nabi, khususnya Muhammad Salallohu’alaihi Wa Sallam sebagai pedoman atau landasan hidup dan juga sebagai hukum/aturan Alloh yang dapat membina seluruh manusia ke jalan yang lurus menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Poin-poin penting beserta dalilnya dalam Al Qur’an
  • Islam sebagai wahyu Ilahi
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang di wahyukan (kepadanya).” (QS. 53 3:4)
  • Diturunkan kepada Nabi dan Rosul
Katakanlah: “Kami beriman kepada Alloh dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak-anaknya dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan hanya kepada-Nya lah kami menyerahkan diri.” (QS. 3 : 84)
  • Sebagai pedoman hidup
“Al Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (QS. 45 : 20)
  • Mencakup hukum-hukum Alloh dalam Al Qur’an dan sunnah Rosululloh
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang telah diturunkan oleh Allah, dan janganlah kamu menuruti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”
  • Membimbing manusia ke jalan yang lurus
“Dan bahwa apa yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. 6 : 153)
  • Menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat
“Barang siapa yang menjalankan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. 16 : 97)